Diblog ini aku ingin cerita tentang kerapuhan aku yang semakin lama semakin Brittle. Mulai dari my love story, aku memutuskan I will to Forget you, HENDRO. Aku ingin meringankan kesakitan hatiku yang selalu hancur berkeping-keping hanya karena cinta. Aku kira aku akan bebas dari kehancuran ini, tapi nytanya aku salah besar. Aku mendapat masalah dari keluargaku yang selalu menganggap diriku tak bisa apa-apa dibandingkan dengan kakakku yang selalu dibangga-banggakan orang. Mereka melihatku dengan sebelah mata. Mungkin aku sebagai manusia biasa pasti sudah sangat membenci orang-orang yang selalu memandang aku sebelah mata, tapi aku mencoba untuk selalu tidak membenci mereka karena aku tau walaupun mereka memamdang ku sebelah mata tapi mereka orang-orang yang aku sayangi. Dan satu hal yang aku tau bahwa aku tak akan bisa melewati cobaan ini tanpa campur tangan Tuhan, aku yakin sekali bila Tuhan tak menuntunku aku mungkin sudah mati putus asa hanya karena mereka yang memandang ku sebelah mata. aku tau cobaan ini sangat berat bagiku ingin rasanya meneteskan air mata untuk cobaan ini karena siapa sih yang akan kuat bila diberi cobaan terus-menerus apalagi dengan umur yang terbilang belum dewasa (13 years old), pastinya aku akan terus menangis karena meratapi segala masalahku, tapi aku sadar bahwa tangis tak akan bisa menyelesaikan masalah itu jadi air mata hanya emosi sesaat dan tak akan ada gunanya. Aku pun cukup bersyukur karena aku diberi beberapa waktu untuk tak mengingat masalah otu semua. Orang tua ku pun juga menganggap aku tak mempu untuk apa-apa. Cukup sangat sedih karena orang tuaku pun melakukannya kepadaku, aku suka bertanya mengapa mereka bisa melakukan semua hal ini kepadaku, apakah mereka tak bisa merasakan bagaimana perasaan ku yang hancur berkeping-keping. Aku ingin bercerita dengan orang ya mungkin setidaknya kesedihanku bisa terangkat sedikit. Tapi, aku harus puas aku harus memendam masalah ini sendiri. Orang tua ku mungkin tak mengetahui perasaanku yang selalu dikucilkan mereka terlalu mengagungkan kakakku.
Kenapa sih orang tua tak pernah mencoba untuk mengerti aku. Mereka tak pernah mencoba merasakan posisinya sepertiku. Saat aku kecewa, terpuruk, mereka bukannya menguatkan aku tapi mereka menyalahkan aku dan rasanya seperti mengutukku.
Aku bosan diperlakukan seperti ini seperti bukan anaknya. Aku suka berpikir apakah mereka akan merindukan ku saat aku pergi untuk selamanya???
Rasanya itu mustahil untuk mereka lakukan, pasti mereka seneng karena aku sudah tak ada lagi dan bagi mereka anak mereka hanya atu meskipun aku masih hidup. Sakit rasanya bila harus merasakan ini semua.

0 komentar:
Posting Komentar